Contoh Kasus

Setiap orang pasti sering mendapatkan berbagai tantangan dalam hidup. Tidak sedikit orang yang merasa bahwa tantangan tersebut merasa berat padahal belum dihadapi. Tapi banyak juga yang berani untuk menghadapi tantangan tersebut, meski pun di tengah jalan banyak yang merasa lelah dan beristirahat. Ada juga sebagian yang dengan gigihnya terus berjuang sampai mereka benar-benar berhasil dan merasa puas dengan keberhasilannya serta bersyukur telah meraih hal tersebut.

Salah satu pengalaman yang tidak akan di lupakan saya sebagai seorang pelajar dan pelajar-pelajar lain adalah ketika kita berada di tingkat atas. Pengalaman dimana saya dan rekan-rekan pelajar lain yang sedang dalam masa menghadapi Ujian Nasional, serta masa dimana kita menentukan pilihan untuk melanjutkan kuliah dan mengikuti ujian masuknnya atau tidak.

Terlalu banyak hal yang dipertimbangkan baik dari diri sendiri mau pun dari orang tua. Namun, saya pribadi sudah diberikan izin dan dukungan dari orang tua untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Dalam hal ini jelas membuat saya terus termotivasi dan bersemangat. Untuk tetap terus bermimpi dan berusaha berjuang agar bisa tetap terus  bersekolah.

Selain dari orang tua, peranan guru-guru dalam memotivasi murid-muridnya, termasuk saya, sangat membantu. Namun, tidak lah semua murid bisa termotivasi. Ada sebagian murid yang menganggap tidak perlu kuliah dan langsung saja kerja. Saya anggap mereka ini orang-orang tipe quitters.

Sebagian lainnya lagi, ada yang menginginkan untuk kuliah, tetapi orangtuanya melarangnya. Mereka beranggapan bahwa kuliah itu mahal dan susah, padahal jika mereka memberikan izin dan dukungan kepada anak-anaknya. Maka anak-anaknya akan belajar engan giat dan mencari informasi mengenai beasiswa. Saya masukkan teman-teman saya yang seperti mereka ini adalah orang-orang bertipe champers. Mereka sebenarnya memiliki keinginan, namun karena ada kendala lain mereka menjadi berhenti dan mengikuti keinginan orang tuanya.

Tipe terakhir adalah tipe orang-orang climbers. Murid-murid yang selalu berjuang dan tetap berusaha untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi, yaitu di bangku kuliah. Saya ingat, teman saya banyak yang rela pulang pergi Garut-Bandung, untuk mendaftar ke universitas, baik yang di adakan oleh pemerintah atau pun pihak swasta. Meski pun pendaftaran bisa melalui online, tetapi pembayaran uang daftar harus tetap lewat bank. Di daerah kami tidak ada bank, jadi untuk men-transfer uang pun susah. Saya pribadi juga pernah melakukan hal yang sama, saya daftar ke perguruan tinggi swasta dan pendaftarannya seperti itu.

Banyak hal yang dilewati, mulai dari rasa kecewa karena tidak lulus SNMPTN dan kami semua hilang harapan untuk masuk perguruan tinggi. Dan hal yang paling menyenangkan adalah ketika kami saling memotivasi, baik dari guru ke murid atau pun sesama murid. Kami diberi dukungan  untuk tetap berusaha dan akhirnya melanjutkan untuk mengikuti SBMPTN.

Akhirnya kami semua yang tetap berusaha dan mendapatkan dukungan untuk kuliah, bisa melanjutkan kuliah di universitas masing-masing yang menerima kami. Saya sangat bersyukur bisa tetap terus melanjtukan sekolah dan mendapatkan ilmu yang lebih. Hal ini juga pasti sama dirasakan oleh rekan-rekan saya yang berhasil lulus dan diterima untuk kuliah, baik yang di negeri atau pun swasta. Saya juga tahu bahwa tantangan tersebut sudah berakhir dan sekarang tantangan baru sedang kami hadapi.

Semoga tantangan ini bisa kami lewati dengan perasaan bersyukur dan senang seperti ketika kami diterima untuk bisa kuliah. Juga kita semau bisa tetap terus membanggakan kedua orang tua kita dan tetap menjadi orang-orang climbers yang tetap berusaha dan manggapai mimpi-mimpinya. Amin.

Advertisements

A. Pengertian

Dalam kamus bahasa inggris, adversity berasal dari kata adverse yang artinya kondisi tidak menyenangkan, kemalangan. Jadi dapat diartikan bahwa adversity adalah kesulitan, masalah atau ketidak beruntungan. Sedangkan quotient menurut kamus bahasa inggris adalah derajat atau jumlah dari kualitas spesifik/ karakteristik atau dengan kata lain yaitu mengukur kemampuan seseorang.

Selain dari pengertian dari segi bahasa, berikut dipaparkan beberapa pengertian adversity quotient dari beberapa ahli:

1. Stoltz, 2000
Adversity Quotient (AQ) adalah kecerdasan mengatasi kesulitan secara teratur.
2. Rifameutia (Reni Akbar Hawadi), 2002
Istilah adversity dalam kajian psikologi didefinisikan sebagai tantangan dalam kehidupan.
3. Efendi, 2005
Adversity Quotient (AQ) adalah kecerdasan ketangguhan.
4. Candisa, 2006
Adversity Quotient (AQ) adalah kecerdasan ketahanmalangan.
5. Subiyanto, 2006
Adversity Quotient (AQ) adalah potensi kegigihan.
6. Laksomono, 2006
Adversity Quotient (AQ) adalah kehandalan mental .
7. Nashori, 2007
Berpendapat bahwa adversity quotient merupakan kemampuan seseorang dalam menggunakan kecerdasannya untuk mengarahkan, mengubah cara berfikir dan tindakannya ketika menghadapi hambatan dan kesulitan yang bisa menyengsarakan dirinya.
8. Leman, 2007
Mendefinisikan adversity quotient secara ringkas, yaitu sebagai kemampuan seseorang untuk menghadapi masalah.

Dari pengertian-pengertian tersebut dapat kita simpulkan, adversity quotient yaitu kemampuan yang dimiliki seseorang, baik fisik ataupun psikis dalam menghadapi problematika atau permasalahan yang sedang dialami.

Adversity quotient membantu individu memperkuat kemampuan dan ketekunan dalam menghadapi tantangan hidup sehari-hari seraya tetap berpegang teguh pada prinsip dan impian tanpa memperdulikan apa yang sedang terjadi dalam menghadapi segala macam kesulitan sampai menemukan jalan keluar, memecahkan berbagai macam permasalahan, mereduksi hambatan dan rintangan dengan mengubah cara berpikir dan sikap terhadap kesulitan tersebut.

Orang yang memiliki adversity quotient lebih tinggi tidak menyalahkan pihak lain atas kemunduran yang terjadi dan mereka bertanggung jawab untuk menyelesaikan masalah. Mereka tidak mudah mengeluh dan tidak mudah berputus asa walau kondisi seburuk apapun. Justru sebaliknya, dengan segala keterbatasannya, mereka mampu berpikir, bertindak dan menyiasati diri untuk maju terus. Sebaliknya, rendahnya adversity quotient seseorang adalah tumpulnya daya tahan hidup. Mengeluh sepanjang hari tatkala menghadapi persoalan dan sulit untuk melihat hikmah di balik semua permasalahan yang dihadapinya. (Welles, 2000:2).

Adversity quotient merupakan suatu teori yang dicetuskan oleh Paul G. Stoltz untuk menjembatani kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosional (EQ). Baginya, meskipun seseorang memiliki IQ dan EQ yang tinggi, namun tidak memiliki daya juang yang tinggi dan kemampuan merespon berbagai kesulitan yang dihadapi, maka kedua hal tersebut akan menjadi sia-sia.

Menurut Paul G. Stoltz bahwa “kesuksesan ditentukan oleh adversity quotient yakni kemampuan bertahan dalam mengahadapi kesulitan dan kemampuan untuk menguasainya”. Sejalan dengan hal itu Paul G. Stoltz mengemukakan pendapat bahwa “adversity quotient adalah teori yang ampuh, sekaligus ukuran yang bermakna dan merupakan seperangkat instrumen yang telah di arah untuk membantu supaya tetap gigih melalui saat-saat yang penuh dengan tantangan”.

Stoltz menyebutkan kesuksesan sangat dipengaruhi oleh kemampuan seseorang dalam mengendalikan atau mguasai kehidupannya sendiri. Kesuksesan juga sangat dipengaruhi dan dapat diramalkan melalui cara seseorang dalam merespon kesulitan yang dihadapinya.

Paul G. Stoltz dan Erik Weihenmayer yang diterjemahkan Kusnandar (2008:8) mengemukakan pendapat bahwa:

“Kesulitan memiliki kekuatan unik untuk menginspirasikan kecerahan yang luar biasa, membersihkan sama sekali sisa-sisa kelesuan, memfokuskan kembali ke prioritas, mengasah karakter, dan melepaskan tenaga yang paling kuat. Bahkan kemunduran kecil sekali pun menjadi lahan subur bagi peningkatan perilaku. Jika mengurangi kesulitan akan menghilangkan kekayaan paling dalam, bakat tertinggi, dan pelajaran paling berharga dari kehidupan. Semakin besar kesulitan yang dihindari, semakin rendah kapasitas diri”.

Menurut Stoltz, kesuksesan seseorang dalam menjalani kehidupan terutama ditentukan oleh tingkat adversity quotient. adversity quotient tersebut terwujud dalam tiga bentuk, yaitu :

1. Kerangka kerja konseptual yang baru untuk memahami dan meningkatkan semua segi kesuksesan.
2. Suatu ukuran untuk mengetahui respon seseorang terhadap kesulitan
3. Serangkaian alat untuk memperbaiki respon seseorang terhadap kesulitan.

B. Komponen Dasar Adversity Quotient

Stoltz menawarkan empat komponen dasar yang akan menghasilkan kemampuan adversity quotient yang tinggi yang biasa disebut CO2RE, yaitu :

1. Kendali/control ( C )
Kendali berkaitan dengan seberapa besar orang merasa mampu mengendalikan kesulitan-kesulitan yang dihadapinya dan sejauh mana individu merasakan bahwa kendali itu ikut berperan dalam peristiwa yang menimbulkan kesulitan. Semakin besar kendali yang dimiliki semakin besar kemungkinan seseorang untuk dapat bertahanmenghadapi kesulitan dan tetap teguh dalam niat serta ulet dalammencari penyelesaian. Demikian sebaliknya, jika semakin rendah kendali, akibatnya seseorang menjadi tidak berdaya menghadapi kesulitan dan mudah menyerah.

2. Kepemilikan/origin and ownership ( O2 )
Kepemilikan atau dalam istilah lain disebut dengan asal-usul dan pengakuan akan mempertanyakan siapa atau apa yang menimbulkan kesulitan dan sejauh mana seorang individu menganggap dirinya mempengaruhi dirinya sendiri sebagai penyebab asal-usul kesulitan. Orang yang skor origin (asal-usulnya) rendah akan cenderung berfikir bahwa semua kesulitan atau permasalahan yang datang itu karena kesalahan, kecerobohan, atau kebodohan dirinya sendiri serta membuat perasaan dan pikiran merusak semangatnya.

Semakin tinggi skor O2 semakin besar kemungkinannya seseorang memandang bahwa kesuksesan itu selalu ada dan penyebab utama suatu kesulitan berasal dari luar. Sebaliknya semakin rendah skor O2 semakin besar kemungkinannya seseorang menganggap bahwa penyebab kesulitan itu adalah dirinya sendiri. Jika mereka sempat meraih kesuksesan, mereka menganggap bahwa kesuksesan itu hanya keberuntungan saja yang diakibatkan oleh orang atau faktor dari luar.
Menurut Stoltz mereka yang skor asal usulnya (origin) rendah cenederung bepikir: (a) ini semua kesalahan saya; (b) saya memang bodoh sekali; (c) seharusnya saya lebih tahu; (d) apa yang saya pikirkan tadi, ya?, (e) saya malah jadi tidak mengerti, (f) saya sudah mengacaukan semuanya, dan (g) saya memang orang gagal.

Lebih lanjut Stolz mengemukakan bahwa orang yang memiliki respon asal usul lebih tinggi akan berpikir sebagai berikut: (a) waktunya tidak tepat; (b) seluruh industri sedang menderita; (c) sekarang ini setiap orang mengalami masa-masa yang sulit, dia hanya sedang tidak gembia hatinya; (d) beberapa anggota tim tidak memberikan kontribusinya; (e) anak saya sakit dan saya harus begadang sepanjang malam untuk merawatnya; (f) tak seorangpun yang dapat meramalkan datangnya yang satu ini; (g) ada sejumlah faktor yang berperan, (h) seluruh anggota tim mengecewakan harapan-harapan kami, (i) setelah mempertimbang-kan segala sesuatunya saya tahu ada acara untuk menyelesaikan pekerjaan saya dengan lebih baik dan saya akan menerapkannya bila lain waktu saya berada dalam situasi seperti ini lagi.

3. Jangkauan /reach ( R )
Jangkauan merupakan bagian dari adversity quotient yang mempertanyakan sejauh manakah kesulitan akan menjangkau bagian lain dari individu. Reach juga berarti sejauh mana kesulitan yang ada akan menjangkau bagian-bagian lain dari kehidupan seseorang. Reach atau jangkauan menunjukkan kemampuan dalam melakukan penilaian tentang beban kerja yang menimbulkan stress. Semakin tinggi jangkauan seseorang, semakin besar kemungkinannya dalam merespon kesulitan sebagai sesuatu yang spesifik dan terbatas. Semakin efektif dalam menahan atau membatasi jangkauan kesulitan, maka seseorang akan lebih berdaya dan perasaan putus asa atau kurang mampu membedakan hal-hal yang relevan dengan kesulitan yang ada, sehingga ketika memiliki masalah di satu bidang dia tidak harus merasa mengalami kesulitan untuk seluruh aspek kehidupan individu tersebut.

4. Daya tahan/endurance ( E )
Dimensi ini lebih berkaitan dengan persepsi seseorang akan lama atau tidaknya kesulitan akan berlangsung. Daya tahan dapat menimbulkan penilaian tentang situasi yang baik atau buruk. Seseorang yang mempunyai daya tahan yang tinggi akan memiliki harapan dan sikap optimis dalam mengatasi kesulitan atau tantangan yang sedang dihadapi. Semakin tinggi daya tahan yang dimiliki oleh individu, maka semakin besar kemungkinan seseorang dalam memandang kesuksesan sebagai sesuatu hal yang bersifat sementara dan orang yang mempunyai adversity quotient yang rendah akan menganggap bahwa kesulitan yang sedang dihadapi adalah sesuatu yang bersifat abadi, dan sulit untukdiperbaiki.

C. Kategori Adversity Quotient

Pada hakikatnya manusia dilahirkan untuk tetap berjuang dan mempertahankan hidupnya.
Dorongan-dorongan tersebutlah yang menyebabkan seseorang agar terus mendaki meraih tujuan hidupnya. Tujuan untuk mendapatkan kesuksesan dalam hidup, meraih prestasi, dan mengagapai cita-cita mmasing-masing individu. Namun, selama pendakian menuju kesuksesan tersebut tidak semua orang mampu menghadapi rintangan-rintangan yang ada.

Dalam menghadapi kesulitan-kesulitan Stoltz mengelompokkan orang ke dalam tiga kelompok, yaitu quitters, campers, dan climbers. Pengelompokkan ini Stoltz lakukan memang berdasarkan pengamatannya terhadap orang-orang yang mendaki gunung Everest. Dimana ada sebagian orang yang menyerah sebelum pendakian tersebut selesai, ada juga orang yang merasa cukup dan puas berada di ketinggian tersebut, dan juga ada sebagian orang yang tetap gigih untuk mencapai puncak gunung Everest dan berhasil mencapainya.

Berdasakan pengamatannya tersebut, berikut dipaparkan lebih jauh mengenai tipe-tipe orang berdasarkan Adversity quotient menurut Stoltz:

1. Tipe Quitters
Orang-orang dengan tipe quitters atau yang sering disebut sebagai orang-orang yang berhenti adalah mereka yang sering menghindari suatu permasalahan, bahkan menolak berbagai kesempatan yang diberikan kepada mereka. Mereka lebih cenderung merasa puas dengan apa yang sudah dimilikinya, tanpa mau berusaha untuk mendapatkan hal-hal yang lebih baik. Tipe iuitters banyak menghindari kewajiban-kewajiban yang diberikan kepada mereka dan berhenti untuk mewujudkan impiannya, serta lebih senang memilih jalan yang menurut mereka lebih mudah dan datar. Mereka sebenarnya adalah orang-orang yang sangat rugi, karena mereka banyak menghindari tawaran dan kesempatan untuk sukses dan potensi-potensi yang bisa dikembangkan oleh mereka. Serta mereka hanya memikirkan cara untuk memenuhi kebutuhan dasar saja.

2. Tipe Campers
Tipe kedua ini merupakan tipe orang-orang yang merasa cukup puas dengan apa yang telah dilakukan dan diraihnya, tanpa mau meneruskan perjuangan mereka dan meraih hal-hal yang lebih memuaskan. Tipe campers atau orang-orang yang berkemah ini, cenderung lebih mudah merasa bosan dan juga merasa lebih nyaman berada di suatu tempat setelah bebrapa hari melakukan pendakiannya.

Orang-orang campers tidak mau mengambil resiko yang lebih besar. Namun, setidaknya mereka berbeda dengan tipe quitters, tipe campers ini sudah mau menanggapi masalah yang ada dan berusaha menyelesaikannya. Mereka menganggap bahwa hal tersebut merupakan sebuah kesuksesan, tetapi sebenarnya hal itu merupakan sebuah kesalahan, mereka terlalu cukup senang dan puas dengan kesuksesannya tersebut. Mereka senang berada di posisi tengah, padahal jika mereka mengembangkan lebih jauh kesuksesannya tersebut, maka mereka mampu mendapatkan hal yang lebih baik dan mendapatkan tingkat yang lebih tinggi. Kenyamanan dan keamanan yang mereka dapatkan dari kesuksesan tersebut, membuat mereka lupa akan impian-impian yang lainnya.

3. Tipe Climbers
Climbers (pendaki) mereka yang selalu optimis, melihat peluang-peluang, melihat celah, melihat senoktah harapan di balik keputusasaan,selalu bergairah untuk maju. Nokta kecil yang dianggap sepele, bagi para Climbers mampu dijadikannya sebagai cahaya pencerah kesuksesan (Ginanjar Ary Agustian, 2001).

Tipe climbers ini merupakan tipe orang yang memiliki dedikasi tinggi terhadap perjuangan dan memberikan dedikasinya tersebut tanpa melihat latar belakang, untung rugi, atau pun nasib baik dan nasib buruk. Mereka merupakan pemikir yang baik, memikirkan segala rintangan untuk dijadikan menjadi sebuah peluang dan tidak menghiraukan berbagai rintangan yang mucul. Mereka tetap berjuang dan gigih dalam menghadapi dan menyelesaikan rintangan tersebut. Orang-orang ini memiliki tujuan hidup yang jelas, mereka akan tetap terus berusaha dengan keberanian dan kedisiplinannya dalam memperjuangkan tujuan tersebut. Mereka akan tetap berusaha dan terus berusaha, sampai mereka yakin kalau mereka sudah benar-benar berada di puncak gunung atau meraih tujuannya.

Orang-orang climbers biasanya menjadi orang-orang yang lebih kreatif dalam memecahkan suatu permasalahan. Dengan kekreatifannya tersebutlah, justru orang-orang seperti ini lebih senang untuk mendapatkan rintangan baru dan menemukan makna kehidupan dibalik rintangan tersebut. Sebenarnya, mereka lah orang-orang yang benar-benar bisa menikmati hidup dan mereka lah yang bisa merasakan gairah keberhasilan setelah menaklukan suatu permasalahan atau rintangan. Mereka akan benar-benar puas dan tahu perasaan gembira dan mengenali bahwa itu lah anugerah yang diberikan kepada mereka.

sumber :
http://eprints.uny.ac.id/9771/2/BAB%202%20-%2007104244092.pdf
http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/21343/1/HAIRATUSSANI%20HASANAH-FPS.PDF
http://mtamim.files.wordpress.com/2010/05/kecerdasan-adversity.pdf